dicuplik dari website liputan6.com=
Kekerasan di kampus IPDN menimbulkan trauma bagi sejumlah mantan praja. Situasi tak nyaman itu membuat mereka pindah dan beralih ke profesi lain. Brigadir Dua Ikhsan Suheri contohnya. Mantan praja itu kini bertugas sebagai staf bagian pers di Kepolisian Resor Persiapan Aceh Timur. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan polisi yang bergaya keras dengan baik.
Hasil ini berbanding terbalik saat Ikhsan menempuh pendidikan di IPDN pada tahun 2005. Baru beberapa hari di kampus, ia harus dirawat di rumah sakit setempat. Kondisinya turun drastis karena menjadi bulan-bulanan sejumlah seniornya. Takut kejadian itu berulang terus, Ikh
Kekerasan di kampus IPDN menimbulkan trauma bagi sejumlah mantan praja. Situasi tak nyaman itu membuat mereka pindah dan beralih ke profesi lain. Brigadir Dua Ikhsan Suheri contohnya. Mantan praja itu kini bertugas sebagai staf bagian pers di Kepolisian Resor Persiapan Aceh Timur. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan polisi yang bergaya keras dengan baik.
Hasil ini berbanding terbalik saat Ikhsan menempuh pendidikan di IPDN pada tahun 2005. Baru beberapa hari di kampus, ia harus dirawat di rumah sakit setempat. Kondisinya turun drastis karena menjadi bulan-bulanan sejumlah seniornya. Takut kejadian itu berulang terus, Ikhsan keluar dari kampus dan masuk sekolah polisi setahun kemudian.
Sementara sebuah keluarga sederhana di Jakarta hingga kini masih mengenang kehidupan Fatiar Wahyudi. Praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri--sebelum diganti IPDN pada 2004--yang lulus tahun 1996 itu menderita kebutaan, lumpuh, hingga akhirnya meninggal pada tahun 2000. Hal itu terjadi setelah dua bulan Fatiar bekerja di sebuah kantor kelurahan.
Amarullah, ayah Fatiar, tak bisa memastikan penyebab turunnya kesehatan sang anak. Ia cuma tahu anaknya menderita banyak luka saat kuliah di STPDN. Kini Amarullah sekeluarga cuma bisa bertanya-tanya mengapa Fatiar begitu cepat meninggalkan mereka. Padahal saat masuk STPDN korban masih segar bugar.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)
san keluar dari kampus dan masuk sekolah polisi setahun kemudian.
Sementara sebuah keluarga sederhana di Jakarta hingga kini masih mengenang kehidupan Fatiar Wahyudi. Praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri--sebelum diganti IPDN pada 2004--yang lulus tahun 1996 itu menderita kebutaan, lumpuh, hingga akhirnya meninggal pada tahun 2000. Hal itu terjadi setelah dua bulan Fatiar bekerja di sebuah kantor kelurahan.
Amarullah, ayah Fatiar, tak bisa memastikan penyebab turunnya kesehatan sang anak. Ia cuma tahu anaknya menderita banyak luka saat kuliah di STPDN. Kini Amarullah sekeluarga cuma bisa bertanya-tanya mengapa Fatiar begitu cepat meninggalkan mereka. Padahal saat masuk STPDN korban masih segar bugar.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)
note: bersyukur tahun 1997, gagal keterima di stpdn....kalo keterima mungkin dah punya batu nisan.....