Blog Entrysepenggal kisah pilu dari STPDNApr 9, '07 8:06 PM
for everyone

 

dicuplik dari website liputan6.com=

Kekerasan di kampus IPDN menimbulkan trauma bagi sejumlah mantan praja. Situasi tak nyaman itu membuat mereka pindah dan beralih ke profesi lain. Brigadir Dua Ikhsan Suheri contohnya. Mantan praja itu kini bertugas sebagai staf bagian pers di Kepolisian Resor Persiapan Aceh Timur. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan polisi yang bergaya keras dengan baik.

Hasil ini berbanding terbalik saat Ikhsan menempuh pendidikan di IPDN pada tahun 2005. Baru beberapa hari di kampus, ia harus dirawat di rumah sakit setempat. Kondisinya turun drastis karena menjadi bulan-bulanan sejumlah seniornya. Takut kejadian itu berulang terus, Ikh

Kekerasan di kampus IPDN menimbulkan trauma bagi sejumlah mantan praja. Situasi tak nyaman itu membuat mereka pindah dan beralih ke profesi lain. Brigadir Dua Ikhsan Suheri contohnya. Mantan praja itu kini bertugas sebagai staf bagian pers di Kepolisian Resor Persiapan Aceh Timur. Ia berhasil menyelesaikan pendidikan polisi yang bergaya keras dengan baik.

Hasil ini berbanding terbalik saat Ikhsan menempuh pendidikan di IPDN pada tahun 2005. Baru beberapa hari di kampus, ia harus dirawat di rumah sakit setempat. Kondisinya turun drastis karena menjadi bulan-bulanan sejumlah seniornya. Takut kejadian itu berulang terus, Ikhsan keluar dari kampus dan masuk sekolah polisi setahun kemudian.

Sementara sebuah keluarga sederhana di Jakarta hingga kini masih mengenang kehidupan Fatiar Wahyudi. Praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri--sebelum diganti IPDN pada 2004--yang lulus tahun 1996 itu menderita kebutaan, lumpuh, hingga akhirnya meninggal pada tahun 2000. Hal itu terjadi setelah dua bulan Fatiar bekerja di sebuah kantor kelurahan.

Amarullah, ayah Fatiar, tak bisa memastikan penyebab turunnya kesehatan sang anak. Ia cuma tahu anaknya menderita banyak luka saat kuliah di STPDN. Kini Amarullah sekeluarga cuma bisa bertanya-tanya mengapa Fatiar begitu cepat meninggalkan mereka. Padahal saat masuk STPDN korban masih segar bugar.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

san keluar dari kampus dan masuk sekolah polisi setahun kemudian.

Sementara sebuah keluarga sederhana di Jakarta hingga kini masih mengenang kehidupan Fatiar Wahyudi. Praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri--sebelum diganti IPDN pada 2004--yang lulus tahun 1996 itu menderita kebutaan, lumpuh, hingga akhirnya meninggal pada tahun 2000. Hal itu terjadi setelah dua bulan Fatiar bekerja di sebuah kantor kelurahan.

Amarullah, ayah Fatiar, tak bisa memastikan penyebab turunnya kesehatan sang anak. Ia cuma tahu anaknya menderita banyak luka saat kuliah di STPDN. Kini Amarullah sekeluarga cuma bisa bertanya-tanya mengapa Fatiar begitu cepat meninggalkan mereka. Padahal saat masuk STPDN korban masih segar bugar.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)

 

note: bersyukur tahun 1997, gagal keterima di stpdn....kalo keterima mungkin dah punya batu nisan.....

 


16 CommentsChronological   Reverse   Threaded
sereleaungu wrote on Apr 9, '07
serius pernah daftar STPDN AL ? Ck ck :)
zenovia wrote on Apr 9, '07
menyedihkan..
wanasherpa wrote on Apr 9, '07
serius pernah daftar STPDN AL ? Ck ck :)
seurius may...maklum keluarga besar dari ibu kebanyakan lulusan IPDN......tapi dulu daftar jugha setengah hati...males pake baju ketat...
sereleaungu wrote on Apr 9, '07
males pake baju ketat
apalagi kalau sekarang daftarnya :p
yogie wrote on Apr 9, '07
huahahahaaa...May bisa ajah..

Al...harusnya dulu tawuran ma STPDN aja haha...

eh btw...asik lagi di STPDN...sex bebas coy !!!..aman lagi...kalo di jatinangor mah takut digrebek warga hehehe...
wanasherpa wrote on Apr 10, '07
yogie said
eh btw...asik lagi di STPDN...sex bebas coy !!!..
Astagfirullah.....ckckck
baru 2minggu ke paris...berubahnya dah sedahsyat ini ckckc.....lebih baik mengasingkan diri di rig..aja...;P
coretan wrote on Apr 10, '07
males pake baju ketat...
Takut tas pinggangnya keliatan mereknya ya Al?...:-) pisss man
wanasherpa wrote on Apr 10, '07
coretan said
Takut tas pinggangnya keliatan mereknya ya Al?...:-)
hehehe ....merek bujal....;p
hendykosasih wrote on Apr 10, '07
Turut berdukacita buat mereka yang meninggal. Sayang mereka meninggal karena tindakan sekelompok orang yang men sakralkan tradisi konyol dan demi pelampiasan dendam semata. Konon hal seperti ini tidak hanya terjadi di IPDN saja, tapi di sekolah2 dinas juga terjadi hal2 seperti ini, hanya tidak muncul ke permukaan.
wanasherpa wrote on Apr 10, '07
tapi di sekolah2 dinas juga terjadi hal2 seperti ini, hanya tidak muncul ke permukaan.
benar...rata-rata sekolah kedinasan memiliki tradisi konyol tersebut.....entah mengapa? hanya tradisi tersebut menjadi selaras atas keterpurukan indonesia....mengingat lulusannya menjadi aparatur penyelenggara pemerintahan indonesia....kebayangkan sekarang.....
yogie wrote on Apr 11, '07
Tapi Al...dulu notabene kampus2 di bandung jg edan khan kalo pas opspek...sampe beberapa orang juga wafat or cacat, jadi mungkin emang itulah wajah pendidikan kita... kecuali jogja yang cinta damai huehehehe
wanasherpa wrote on Apr 11, '07
yogie said
Tapi Al...dulu notabene kampus2 di bandung jg edan khan kalo pas opspek
nyindir luh.....jurusan gw keras coy bukan kasar....hehehehe.....
kaga ada ninju atau nendang...apalagi hantam belakang.......

disekolah komando, sekolah pendaki gunung atau ospek geologi....ada yang wafat lebih karena keletihan ......bukan karena benturan fisik atau penyiksaan....
aasep wrote on Apr 15, '07
Hiks hiks... bubarkeun we deuh IPDN ieu Kang.... teu aya gunana... atawa gabungkeun ajah ka FISIPOL UNPAD. Biar ngasi kesempatan buat dari UNIV umum jadi PNS ato lurah :D.
paririan wrote on May 14, '07
untung-untunnggg....masih bisa ngeblog :D
samabaliung wrote on Sep 17, '07
semuanya cerita indah ko,,pahit untuk diulang indah untuk dikenang
afitchan wrote on Nov 30, '07
wah,,dulu daftar juga ya di STPDN, untung geology gak kyk STPDN hehe..
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help